LUMINESCE PARALLEL - DIMENSION DESTROYER PART 1

Matahari bersinar cerah dan burung-burung bernyanyi sambil bertengger di atas pohon. Angin bertiup pelan sekali. Sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu. Monumen Last Chaos yang didirikan untuk mengenang kejadian itu masih ramai dikunjungi. Disana telah dibangun beberapa penginapan, rumah makan dan tempat peristirahatan sementara bagi para pengunjung.

Rey dan Filliana tampak sedang berdiri menghadap monumen itu. Rey telah kehilangan tangan kirinya sejak pertempuran itu. “Tidak terasa sudah dua tahun berlalu,” gumam Rey pelan dan sedih. Matanya menatap monumen itu. Monumen itu berukir perang antara manusia melawan makhluk magis dibawahnya diukir keterangan singkat tentang kejadian itu.

“Ya. Dan semuanya telah berubah sejak kejadian itu,” kata Felliana sama pelan dan sedih seperti Rey. Tanpa disadari, tangan mereka sudah saling berpegangan cukup erat.

“Kalian sudah datang,” sapa seseorang dari belakang Rey dan Filliana. Mereka langsung membalikkan badan mereka dan tersenyum kepada orang yang baru datang itu. orang itu duduk diatas sebuah kursi roda.

Orang yang datang itu adalah seorang gadis yang berusia 18 tahun dengan mata hitam dan besar. Rambutnya sebahu lewat dikit. Gadis itu tersenyum juga kepada mereka. Sebuah lesung pipi terbentuk ketika ia tersenyum.

“Yui, aku kira kamu akan lama baru tiba,” kata Felliana kepada gadis yang duduk di kursi roda itu. “Aku tidak mau kehilangan momen ini,” kata Yui sambil tersenyum menatap monumen Last Chaos. Dipandangnya ukiran disana dalam-dalam.

“Sudah dua tahun berlalu. Apa yang sedang dilakukannya?” gumam Yui pelan sekali hampir tidak terdengar. Pikirannya mulai beralih ke masa itu. Masa ketika ia bertemu dengan Rozugeidth yang saat itu memakai nama Rozuitto. Pikirannya langsung melayang ke peristiwa itu. Peristiwa yang akhirnya membuat mereka terpisah hingga saat ini.

Saat itu dirinya terluka parah karena serangan Nighthell demi melindungi orang yang dicintainya. Setelah itu ia tidak ingat lagi apa yang terjadi di tempat itu. Ketika ia membuka matanya, ia telah berada di sebuah rumah sakit. Wajah Rey dan Felliana tampak sangat lega pada saat itu.

Dokter di sana juga terkejut karena tidak mengira Yui akan sadar kembali. Tapi sayang, ia tidak berjalan lagi karena serangan Nighthell tepat mengenai kepalanya dan akhirnya mengganggu saraf geraknya.

“Apakah kamu tidak bosan menunggunya disini setiap hari?” tanya Rey membuyar pikiran Yui. “Sudah dua tahun kamu menunggunya. Dan dia tetap tidak muncul.”

Yui tertunduk sedih. Senyumnya menghilang dari wajahnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Rey. Perasaannya bercampur aduk antara harapan dan keputusasaan. Felliana menyadari suasana yang tidak menyenangkan ini langsung berkata,”Ayo, kita pergi makan. Katanya restoran yang baru buka masakannya enak loh.”

Yui dan Rey mengangguk setuju. Wajah Yui mulai cerah kembali. Dijauhkan perasaan putus asa dari benaknya. Ia terus berpegang pada harapan bahwa Rozugeidth pasti akan kembali lagi. Restoran itu sangat ramai dan penuh sesak. Setelah makanan yang mereka pesan, mereka mulai menyantap makanan itu sambil membahas beberapa kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.

“Akhir-akhir ini perampok sering muncul di hutan sebelah utara,” gerutu Chris. Chris sekarang lebih banyak bertugas di daerah utara bersama Felliana. “Pemimpin mereka sangat sulit dilacak. Kita butu bantuan dari tim inteligen untuk melacak pemimpinnya,” saran Felliana. Rey mengangguk setuju.

Mereka berdua mulai membahas pekerjaan mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan Yui. Yui yang bosan mendengar mulai melihat kelaur jendela. Hari menjelang sore, burung-burung tampak terbang untuk pulang ke rumah masing-masing. Matahari tinggal setengah dan orang mulai tampak semakin sedikit karena mereka sudah balik ke penginapan atau rumah masing-masing.

Seseorang tampak sedang berdiri menghadap monumen itu. orang itu memakai sebuah mantel hitam yang sangat panjang. Sebuah syal berwarna merah tua tampak melingkari lehernya. Rambutnya sedikit panjang. Yui menatap orang itu dari balik jendela. Syal merah orang itu mengingatkannya pada hadiah yang diberikannya kepada Rozugeidth sewaktu mereka masih di desa Ravein.

Yui masih terus menatap orang bermantel hitam itu. Setelah cukup lama berdiri di sana, orang itu berjalan pergi. Yui tidak dapat melihat wajah orang bermantel hitam itu. jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat. Ia melihat sebuah luka di pelipis orang itu. Walau hanya sekilas, ia sangat yakin bahwa yang ada di pelipis orang bermantel hitam itu adalah sebuah luka goresan pedang.

“Dia kembali,” kata Yui dengan pelan dan tidak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca menatap keluar jendela. Rey dan Felliana langsung menghentikan percakapan mereka ketika mendengar perkataan Yui.

“Maksudmu Rozu?” tanya Rey tidak percaya. Ia langsung menatap keluar jendela. Akan tetapi, orang bermantel hitam itu sudah tidak terlihat lagi. “Mana?” tanya Rey sambil terus mencari sosok orang yang dimaksud Yui. Rey dan Felliana tidak menemukan sosok orang yang dimaksud Yui berbalik menatap Yui.

“Sepertinya kamu sudah lelah,” kata Felliana kemudian. Mereka keluar dari restoran itu dan berjalan ke penginapan. Yui masih terus mencari sosok orang bermantel hitam tadi di sekitar monumen itu. Tapi sayang, orang bermantel hitam itu sudah tidak terlihat lagi. “Apa aku salah mengenali orang?” pikir Yui dalam hati.

Malam hari Yui tidak bisa tidur memikirkan sosok orang bermantel hitam itu. “Siapakah orang bermantel hitam itu?” Yui mulai bertanya-tanya dalam hati. Dari bertanya-tanya, ia mulai mencoba menebak jawaban dari pertanyaannya. Lama kelamaan ia mulai jatuh tertidur.
*****

Matahari bersinar cerah keesokkan harinya. Jalanan sudah penuh dengan orang-orang. Banyak yang sudah mengerumuni monumen Last Chaos. Yui keluar dari penginapan itu dengan kursi rodanya. Air mukanya sangat cerah pagi hari ini. Ia keluar dari penginapan itu sendirian.

“Pagi yang cerah,” katanya dalam hati. Sebuah lesung pipi terbentuk lagi ketika ia tersenyum. Kursi rodanya digerakkan dengan kekuatan sihir. Sehingga ia dapat pergi kemana saja tanpa kesusahan.
Orang bermantel hitam itu menampakkan diri lagi. Orang itu berdiri di belakang kerumunan orang di monumen Last Chaos sehingga gampang dikenali. Yui langsung mengenal orang bermantel hitam itu. dengan cepat digerakkan kursi rodanya ke arah orang bermantel hitam itu. ia ingin sekali melihat wajah orang bermantel hitam itu hanya untuk sekedar memastikan saja. Harapan yang selama ini disimpan dalam hatinya mulai meningkat.

Orang yang hilir mudik di depannya menghalangi pandangan matanya. Ia semakin dekat dengan orang bermantel hitam itu. Orang bermantel hitam itu mulai melangkah pergi meninggalkan kerumunan di monumen Last Chaos dan berjalan ke arah Yui. Orang yang hilir mudik semakin banyak sehingga orang bermantel hitam itu tidak terlalu memperhatikan setiap orang dihadapannya.

Tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak kursi roda Yui. Orang itu langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan benda yang ditabraknya itu. Kursi roda Yui kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh. Tepat pada saat itu, orang bermantel hitam itu berjalan di samping Yui dan dengan cepat orang bermantel hitam itu menangkapnya sebelum tubuh Yui tiba di tanah.

“Hei, kamu tidak apa-apa?” tanya orang bermantel hitam itu. Suara itu sangat tidak asing di telinga Yui. Suara itu sudah tidak pernah didengarnya selam dua tahun. Kini suara itu muncul di sampingnya dan terdengar sangat dekat di telinganya.

Yui mengangkat kepalanya melihat wajah orang yang menolongnya atau tepatnya wajah orang bermantel hitam itu. Yui begitu terkejut melihat wajah orang bermantel hitam itu. Tanpa disadarinya, airmatanya mulai mengalir membasahi pipinya. Wajah itu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Tetap memakai kacamata frameless. Walau rambut orang bermantel hitam itu sedikit panjang dan menutup mata kirinya, tapi wajah itu adalah wajah yang sangat ingin dilihatnya selama ini.

Orang bermantel hitam itu memasang wajah yang luar biasa terkejut juga begitu dirinya melihat Yui. Sesaat mereka tidak dapat berkata apa-apa. Mereka berdua masih saling bertatapan. Jantung mereka berdetak cepat sekali.

“Rozu…” kata Yui pelan sekali hampir tidak terdengar. Rozugeidth tidak berkata apa-apa dan terus menerus menatap Yui. Ia mencengkram lengan Yui kuat sekali. Perasaan yang telah dipendamnya selama dua tahun muncul kembali memenuhi hati dan pikirannya.

“Kamu tidak apa-apa, Yui?” tanya Rozugeith setelah menatap Yui cukup lama. Yui langsung memeluk Rozugeidth. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Rozugeidth membalas pelukan Yui.

Setelah berpelukkan cukup lama, Rozugeidth pun menggendong Yui dan diletakkan di kursi roda itu kembali. “Sudah dua tahun berlalu. Tempat ini sudah banyak berubah dan sangat berbeda dari yang kuingat,” kata Rozugeidth membuka pembicaraan. Matanya menatap kerumunan orang di depannya.

“Ya. Semuanya telah berubah sejak saat itu,” jawab Yui singkat sambil menatap ke arah yang sama. Kerumunan orang bertambah banyak dan matahari bersinar semakin terik. “Bagaimana dengan yang lain?” tanya Rozugeidth kemudian. ia kemudian melepas mantel hitamnya itu karena tidak tahan dengan panasnya cuaca.

“Maksudmu Felliana dan Rey? Mereka berdua baik-baik saja. Rey kehilangan tangan kirinya. Tapi dia masih bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa.”

Yui menatap Rozugeidth yang berdiri di samping kanannya dari atas kepala hingga ujung kaki. Rozugeidth memakai jaket hitam dengan beberapa garis hijau cerah yang ditutup sampai se leher. Sebuah syal merah tua tergantung di lehernya. Rozugeidth juga memakai sebuah sarung tangan biru tua.

“Aku tidak pernah melihatnya memakai sarung tangan,” pikir Yui dalam hati. Sebuah celah terbentuk antara lengan jaket hitam sebelah kiri dengan sarung tangan Rozugeidth. Sesuatu yang berwarna putih sedikit terlihat. Yui menatap sesuatu yang berwarna putih itu cukup lama. Semakin dilihat semakin mirip perban.
“Kamu terluka ya?” tanya Yui setelah memastikan sesuatu yang berwarna putih itu adalah perban. Rozugeidth langsung menutup pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanannya. “Tidak,” jawabnya singkat. Yui menatapnya penuh curiga. Tapi ia tidak memaksa Rozugeidth untuk menjawab dengan jujur.

“Yui!” panggil seseorang dari jauh. Tampak dua orang sedang berlari ke arah Yui dan Rozugeidth. Kedua orang itu adalah Rey dan Felliana. “Ternyata kamu di sini,” kata Felliana sambil tersengal-sengal. Begitu juga dengan Rey. Mereka tidak memperhatikan Rozugeidth yang sedang berdiri di sana.

“Kami panik mencarimu karena kamu tidak ada di kamarmu,” kata Rey setelah napasnya mulai teratur. “Siapa ini?” tanyanya kepada Yui tanpa melihat ke arah orang yang dimaksud. Fellliana langsung melihat ke arah orang yang dimaksud Rey.

“Rozu…?” kat Felliana dengan pelan dan tidak percaya. Barulah Rey membalikkan tubuhnya dan melihat Rozugeidth berdiri di sana. “Kemana saja kamu selama ini?” tanya Rey langsung tanpa basa-basi. Ia sangat senang melihat Rozugeidth telah kembali setelah menghilang selama dua tahun.

Rozugeidth tidak menjawab pertanyaan Rey. Ia memang tidak berencana untuk menjawab pertanyaan itu. “Aku bertapa di suatu tempat yang jauh dan kemudian tersesat jalan pulang,” jawab Rozugeidth dengan nada bercanda. Mereka menanggapi jawaban Rozugeidth dengan tertawa.

“Bertapa dimana kamu?” tanya Rey sambil merangkulkan tangan kanannya ke pundak Rozugeidth dan membawanya ke penginapan mereka. Malam itu mereka menghabiskan waktu di penginapan untuk bercerita sekaligus bercanda sambil makan dan minum. Menjelang tengah malam, mereka semua sudah jatuh tertidur karena kecapekkan.

Seseorang berjalan pelan menuju pintu keluar. Ditutupnya pintu itu pelan sekali dan suara langkah kakinya yang pelan menghilang di tengah kegelapan malam.

.:BERSAMBUNG:.


Category Article ,

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.